Nasalis larvatus

Nasalis larvatus
Bekantan Fauna Endemik Borneo, merupakan maskot Kalimantan Selatan. Hewan ini terancam keberadaannya. Mari lindungi kekayaan dan biodiversitas Indonesia, jangan sampai mereka hanya tinggal cerita

Minggu, 25 November 2012

"perjaka tua yang menanti seorang kekasih" rangkaian puisi malam dari foto yang diambil di pantai KUKUP, WONOSARI YOGYAKARTA


detik demi detik telah aku lewati bersama keluarga, sahabat dan teman...
bersama-sama kami lewati fana nya hidup...
terkadang rindu ini kuselipkan sejenak pada kekasih hati...
kekasih hati yang aku dambakan dan aku rindukan...
kekasih yang selama ini belum juga aku temukan...
kekasih yang setia menemaniku suka dan duka...
kekasih yang hadir tanpa penghianatan dan dusta..

duhai kekasih dimanakah kamu berada..?
aku menantimu disni...
untuk menemaniku hingga tua nanti..
berbagi suka dan duka bersama...
saling mengisi tawa dan sedih juga bersama...

duhai kekasih kapan kamu akan datang..?.
hari ini, esok atau lusa...
kapan kamu akan memeluk aku dan genggam tanganku ini..?
kapan kamu akan membisiki aku kata cinta dan rindu yang lembut..?

duhai kekasih...
siapakah kamu..?
kamu yang bakal mendengarkan ceritaku...
kamu yang bakal berkomentar saat aku salah..
memujiku saat aku benar..

duhai belahan jiwa..
bagaimana kamu datang...?
terbang dari khayangan..
atau muncul tiba-tiba didepan mataku...

duhai cintaku...
kenapa kamu tak juga melintas didepanku...?
membelai lembut tubuh ini..
mengecup mesra kening ini...

disini aku duduk..
menatap langit yang luas...
samudra yang membentang...
namun kamu tak juga muncul dan mehampiriku...

hanya pada ALLAH aku berdoa...
mendekatkan kita segera..
mendatangkan kamu disampingku...
untuk mengukir masa depan bersama..

semoga bidadari yang datang adalah utusan ALLAH
yang bakal menjadi kekasih terakhirku..
dan menjadi ibu dari anak-anakku..

amin...

NB: rangkaian puisi dari foto yang diambil di pantai KUKUP, WONOSARI YOGYAKARTA

refleksi pertama menjelang tahun yang baru


saya mencoba merefleksikan diri di catatan pertama ini...mencoba untuk mengaca atas semua kesalahan yang telah saya buat dan berusaha keras untuk tidak mengulangi atau minimal mengurangi perbuatan yang kurang baik di tahun 2010..

Ada dua hal yang sering membuat saya tidak pandai dalam bersyukur.
Pertama, mungkin saya sering memfokuskan diri pada apa yang saya inginkan, bukan pada apa yang saya miliki dan bukan pada kebutuhan saya. Di pikiran  saya mungkin hanya dipenuhi berbagai target dan keinginan yang belum bisa saya buktikan. Jadi, betapapun keberhasilan yang saya peroleh di tahun 2010 tak pernah sesuai dengan target yang sebenarnya saya butuhkan.

saya jadi ingat ungkapan orang dulu, bahwa orang yang ''kaya'' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki. 

Hal kedua yang sering membuat saya tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain dan saya sering merasa orang lain lebih beruntung..Padahal ALLAH menciptakan setiap orang dengan keunikan dan keistimewaan masing2..


Sebenarnya ada beberapa tujuan hidup saya yang tidak boleh saya ubah dalam tiap tahunnya, yaitu untuk membantu orang lain, setidaknya kalo saya tidak membantu orang lain saya tidak akan pernah menyakiti mereka...
Namun kadang orang menganggap salah pada tiap yang kita lakukan, padahal tidaka ada sedikitpun niat saya untuk menyakiti mereka...yang penting do the best..


saya sadar sekali, bahwa jika saya ingin hidup selalu naik dan lebih baik, maka saya  harus siap menerima penurunan dan ketidakberhasilan dalam tiap langkahnya.

Ibaratkan "Per" yang di tekan dgn sekuat tenaga ke bawah, maka akan memantul lebih tinggi juga ke atas..

Saya tidak pernah menyerah, karena saya tidak ada niat sedikitpun untuk menyakiti orang..yang ada adalah niat untuk lebih baik...dan saya sangat berharap itu..saya sadar kesalahan yang banyak terjadi bukanlah kesalahan yang dilakukan orang lain, tapi kesalahan yang dilakukan oleh saya sendiri..itu saya akui sebagai manusia yang ingin menjadi lebih baik lagi..bukan manusia yang egois, keras kepala dan mau menang sendiri..

Tahun 2011 telah dekat, yang saya harus saya lakukan di tahun 2011 adalah: lebih bisa bisa bersyukur lagi, bisa merasakan apayang dirasakan orang lain, bisa tertawa dan membuat orang lain tersenyum dan tertawa, berusaha untuk tidak membuat orang lain menangis, bisa mendengar lebih baik lagi tentang pendapat dan saran orang lain, bisa berbagi lagi dengan orang lain, bisa mencintai dan bisa dicintai...semoga itu semua bisa saya kabulkan dan saya lakukan

saya bersyukur dengan apapun yang ada pada saya saat ini
Maulana khalid riefani 

Rasulullah SAW penuh kasih sayang, span santun, lembut dan setia pada istri dan keluarganya


Rasulullah SAW sangat mencintai, menyayangi, penuh sopan santun dan lembut pada istri-istrinya dan keluarganya. Contoh sikap luar biasa Rasulullah SAW yang harus diteladani oleh setiap suami dan para laki-laki di muka bumi agar tidak ada sikap kasar, sewenang-wenang laki-laki atau suami pada istri adalah:

  1. Rasulullah SAW selalu bersikap sopan, santun dan santun kepada wanita apalagi istri beliau. Sekalipun Rasulullah SAW adalah seorang pemimpin umat Islam tertinggi dan pemimpin terbesar di dunia, namun beliau selalu memperlakukan istrinya sebagai orang yang istimewa
  2. Rasulullah SAW sering memanggil istrinya dengan panggilan mesra, misalnya istri beliau Aisyah r.a. yang dipanggil dengan panggilan Khumaira yang artinya kemerah-merahan. 
  3. Rasulullah SAW selalu bertanggung jawab pada keluargganya dan bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarganya. Salah satu contoh: Rasulullah SAW sering memerah sendiri susu kambing yang dimilikinya hanya untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
  4. Rasulullah SAW tidak pernah menyusahkan istrinya dan keluarganya. Jika pakaian beliau koyak atau ribek, Rasulullah SAW menambalnya dan menjahitnya dengan tangan beliau sendiri tanpa menyuruh isterinya atau keluarga beliau yang lain. Sayidatina ‘Aisyah menceritakan “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.”
  5. Rasulullah SAW tidak pernah mendesak atau memaksa istri menyediakan makanan. Contohnya saat Rasulullah SAW pulang kerumahnya pada waktu pagi hari, beliau sangat lapar saat itu dan saat dilihat di dapurnya tidak ada apapun untuk sarapan, bahkan yang mentah pun tidak ada karena pada saat itu Sayidatina ‘Aisyah belum pergi ke pasar. Beliau kemudian bertanya pada istrinya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” Aisyah menjawab dengan serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit pun tergambar raut kesal di muka beliau.
  6. Rasulullah SAW pun tidak segan membantu istrinya di dapur saat memasak makanan bagi beliau. Contoh: Setiap kali pulang ke rumah, bila di dapur beliau tidak terlihat makanan yang sudah siap dimasak untuk dimakan, sambil tersenyum Rasulullah SAW  menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur dan ikut memasak makanan tersebut.
  7. Rasulullah SAW sangat marah saat melihat seorang suami atau laki-laki sedang memukul istrinya. Contoh: saat beliau melihat seseorang suami memukul istrinya. Beliau menegur sang suami tersebut, “Mengapa engkau memukul istrimu?” Orang itu menjawab, “Isteriku sangat keras kepala! Sudah diberi nasihat dia tetap bandel juga, jadi aku pukul dia.” Rasulullah SAW berkata lagi, “Aku tidak menanyakan alasanmu, aku bertanya mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu dari anak-anakmu?
  8. Rasulullah SAW sangat setia pada Istrinya. 
Suatu hari, seorang nenek datang menemui Rasulullah SAW, kemudian  Rasulullah SAW  bertanya kepada nenek itu: “Siapakah Anda wahai nenek?”.
wanita tua itu menjawab:  “Aku adalah Jutsamah al-Muzaniah, ” . 
Rasulullah SAW pun berkata: “Wahai nenek, sesungguhnya saya mengenalmu. Engkau adalah wanita yang baik hati. Bagaimana kabarmu dan keluargamu?, Bagaimana pula keadaanmu sekarang setelah kita berpisah sekian lama?”. 
Nenek itu pun menjawab: “Alhamdulillah kami dalam keadaan baik. Terima kasih, Rasulullah.” itu jawab si wanita tua itu. 
Tak lama kemudian, wanita tua itu pergi meninggalkan Rasulullah SAW.

Aisyah RA yang melihat kejadian itu datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata: “Wahai Rasulullah, seperti inikah engkau menyambut dan memuliakan seorang wanita tua? Istimewa sekali.”
Rasulullah pun menjawab: “Ya, dahulu nenek itu selalu mengunjungi kami ketika Khadijah masih hidup. Sesungguhnya melestarikan persahabatan adalah bagian dari iman.”
Setelah kejadian itu, Aisyah mengatakan:  “Tak seorang pun dari istri-istri nabi yang aku cemburui lebih dalam ketimbang Khadijah. Meskipun aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah SAW seringkali menyebutnya. Pernah suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikannya kepada sahabat-sahabat karib Khadijah.”

Jika hal tersebut disampaikan Aisyah, Rasulullah SAW menanggapinya dengan berkata:  “Wahai Aisyah, begitulah kenyataannya. Sesungguhnya darinyalah aku memperoleh anak.”
Pada kesempatan lainnya, Aisyah mengatakan: “Aku sangat cemburu dengan Khadijah karena sering disebut Rasulullah SAW, sampai-sampai aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu, sementara Allah SWT telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?” Rasulullah SAW menjawab, “Demi Allah SWT, tak seorang wanita pun lebih baik darinya. Ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiaiaku, Allah SWT menganugerahkan anak kepadaku darinya.”

Itulah sepenggal kisah tentang kesetiaan Rasulullah, bukan kesetiaan semu dan bukan pula materi, tetapi kesetiaan imani, kesetiaan yang dilandaskan rasa cinta kepada Allah SWT, bukan cinta nafsu syaithan. Kesetiaan suami kepada istri yang telah lama mengarungi rumah tangga dalam segala suka dan duka.

Kecantikan Aisyah tidak membuat Rasulullah SAW melupakan jasa baik dan pengorbanan Khadijah, betapa pun usianya yang lebih tua. Kesetiaan inilah yang membuat cendikiawan muslim Nahzmi Luqa mengatakan, “Ternyata kecemburuan Aisyah tidak mampu melunturkan kesetiaan Nabi kepada Khadijah, kesetiaan yang harus diteladani para pasangan suami istri.“

MasyaALLAH, pemimpin besar seperti beliau begitu menghormati istri dan para wanita..dengan ketegasan, penuh sopan santun dan lemah lembut beliau menghormati wanita-wanita yang ada disekelilingnya...mudah-mudahan kita bisa menjadi seperti beliau dan menjadikan sikap Rasulullah SAW sebagai suri teladan yang baik dan dapat diterapkan di kehidupan sehari agar tidak ada lagi para wanita dan istri yang terskiti, tidak ada lagi wanita dan istri yang menangis karena dipukul suaminya, tidak ada lagi wanita dan istri yang tersakiti..Semoga kita diberi kekuatan untuk memiliki kesetiaan pada suami/istri kita seperti halnya Rasulullah SAW. Amin...

saya persembahkan tulisan ini bagi para wanita, istri dan ibu-ibu yang ada di muka bumi ini...Rasulullah SAW bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik, kasih dan lemah lembut terhadap isterinya.”

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan mahligai surga, mereka berperang di jalan Allah, mereka pun terbunuh atau membunuh. Adalah janji sejati atasNya di dalam kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih setia dari Allah Subhanahu wata’ala akan janjiNya. Bergembiralah dengan bai’at (sumpah setia) yang kalian ikrarkan, itulah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah : 111).

tulisan ini saya buat berdasarkan rujukan referensi yang saya baca di berbagai media, seperti dari media elektronik, blog, buku, selebaran-selebaran yang saya dapat saat berada di mesjid dan referensi-referensi lain yang dapat menunjang isi tulisan inii 

semoga bermanfaat
Hormat saya maulana khalid riefani 

maafkan segala kesalahan kami ya ALLAH


ALLAH sungguh maha besar dan maha pengasih lagi penyayang..
ALLAH telah memberi berbagai macam cobaan dan masalah pada kita..
bukan untuk kita jatuh, sengsara atau terpuruk pada bencana..
bukan juga untuk menangis, menyerah dan terluka..
tapi untuk kita bisa kembali ke jalanNya dan mengingatNya..
untuk kita bisa kembali bersyukur pada apa yang diberikanNya..

segala cobaan yang diberikan ALLAH merupakan awal kebahagiaan
segala masalah yang diberikan ALLAH itu awal dari perbaikan diri
segala bencana yang diberikan ALLAH adalah awal dari kewaspadaan
segala tangisan yang diberikan ALLAH pasti awal dari senyuman

kita tidak tau apa yang ada dibalik itu semua
kita tidak tau apa hikmah di balik itu semua
kita juga tidak tau tanggung jawab apa yang ada pada itu semua

yang manusia tau hanya keluhan, yang manusia tau hanya bagaimana menitikkan air mata dan raungan hebat saat itu terjadi...
kita terlambat sadar bagaimana seharusnya bertindak..terlambat untuk bersyukur dan bangkit saat jatuh..terlambat untuk mengetahui solusi yang harus dilakukan saat masalah itu bertubi-tubi menerpa..

ya ALLAH ya Robbi...kami tau kami banyak dosa..
ya ALLAH ya Robbi...kami tau kami manusia yang tidak pandai bersyukur..
ya ALLAH ya Robbi..kami tau kami hanya manusia lemah..
ya ALLAH ya Robbi..kami tahu kami adalah makhluk yang paling egois..
ya ALLAH ya Robbi..kami tau kami manusia yang mudah mengeluh saat menangis dan terbahak saat senang...

ampuni kami ya ALLAH...Ampuni hambaMu ini yang egois, lemah, tidak tau diri, cengeng, dan pengecut ini
ampuni kami ya ALLAH...Ampuni hambaMu ini yang kecil, miskin, bodoh, dan kotor ini
maafkan segala kesalahan kami ya ALLAH..maafkan kebodohan kami ya ALLAH..
Tunjukkan jalan kami ya ALLAH, berikan kamikemudahan ya ALLAH, terangi jalan kami ya ALLAH, lindungi kami ya ALLAH
Berikan kesabaran bagi kami ya ALLAH..berikan kami kekuatan ya ALLAH..berikan keihlasan bagi kami ya ALLAH..

jauhkan kami dari sikap egois ya ALLAH, jauhkan kami dari sikap sombong, pengecut dan lemah ya ALLAH
dekat kan kami dari senyuman ya ALLAH, pintarkan kami untuk bisa mengartikan tanda-tandaMu ya ALLAH, kayakan hati kami ya ALLAH, besarkan rasa syukur kami ALLAH...

bismillah..segala puji bagi ALLAH sang pemilik dunia ini, sang pembolak-balikkan hati ini...

indah pada waktunya tapi perjuangan dan tidak menyerah itu yang perlu


Aku berusaha jadi yang terbaik yang kamu inginkan...
Aku pun berusaha untuk tetap jaga hati untuk dirimu..
tapi apakah itu cukup membuat kamu bahagia?
apakah itu cukup membuat kamu tersenyum?

hanya aku, kamu dan sang pemilik hati ini yang tau (ALLAH SWT)

Aku berusaha berubah seperti yang kamu inginkan...
Akupun berusaha untuk selalu membuat kamu jatuh cinta padaku...
tapi apakah itu bisa membuat kamu bertahan padaku?
apakah itu cukup membuat kamu tegar disampingku?

hanya aku, kamu dan sang pemilik hati ini yang tau (ALLAH SWT)

Aku berusaha jaga komunikasi denganmu...
akupun berusaha untuk memimpikanmu disetiap tidurku...
tapi apakah itu cukup menjadikan kamu selalu menyayangiku?
apakah itu mampu membuat kamu tidak mengeluh padaku?

dan hanya aku, kamu juga sang pemilik hati ini yang tau (ALLAH SWT)

semua tergantung kita...semua itu tergantung aku dan kamu...
ALLAH itu sutradara yang maha sempurna, ALLAH itu produser yang begitu kaya yang memberikan modal hidup ini, ALLAH itu pemilik jalur hidup ini..tapi kita yang menjalankan..kita yang berpikir dan mengarahkannya...

kadang keinginan tak sesuai dengan kenyataan, itu wajar karena hidup ini penuh kemungkinan..hidup ini penuh dengan teka-teki karena kita tidak tau apa yang terjadi selanjutnya tapi apakah kita tidak berusaha untuk menjalaninya? tapi apakahkita tidak bisa untuk berusaha bertahan pada satu tujuan kita?

tidak ada alasan apapun untuk menyerah dan berhenti berjuang, tidak ada pembenaran apapun untuk takut menghadapinya...walau kita selalu dibatasi jarak dan waktu..karena jarak dan waktu itu lah yang indah..karena jarak dan waktu itulah yang membuat kita semakin kuat dan matang...jarak dan waktu itulah yang memmbuat kita semakin kokoh saat diterjang badai dan kuat saat diterjang topan.. 

cinta itu perlu perjuangan..sayang itu perlu pengorbanan...tapi apakah dengan menyerah dan berhenti berjuang itu akan merubah sesuatu yang kita inginkan? tapi apakah dengan mengeluh dan berpaling dari masalah semuanya dapat diatasi

Hadapilah dan bertemulah pada semua tantangan yang ada..karena aku yakin semua bakal indah pada waktunya...dan itu benar...karena perjuangan dan pengorbanan kita takkan pernah sia-sia.....karena semua yang diucapkan dan dijalani penuh tanggung jawab dan resiko...semua orang bisa menghadapinya lalu kenapa kita tidak bisa...kenapa kita menyerah? kenapa kita tidak berjuang?
dan hanya aku, kamu dan sang pemilik hati ini yang tau (ALLAH SWT)

sistem kekerabatan suku banjar dan kata2 yang digunakannya


Waring Sanggah  Datu  Kai (kakek) + Nini (nenek) Abah (ayah) + Uma (ibu)Kakak < ULUN > AdingAnakCucuBuyutIntah/Muning

Seperti sistem kekerabatan umumnya, masyarakat Banjar mengenal istilah-istilah tertentu sebagai panggilan dalam keluarga.
Skema diatas berpusat dari ULUN sebagai penyebutnya.
Bagi ULUN juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua yang disebutJULAK,
saudara kedua disebut GULU, saudara berikutnya disebut TUHA,
saudara tengah dari ayah dan ibu disebut ANGAH, dan yang lainnya biasa disebut PAKACIL (paman) dan MAKACIL (bibi),
sedangkan termuda disebut BUSU. Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.
Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan lainnya, yaitu:· minantu (suami / isteri dari anak ULUN)· pawarangan (ayah / ibu dari minantu)· mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri ULUN)·mintuha lambung (saudara mintuha dari ULUN)· sabungkut (orang yang satu Datu dengan ULUN)· mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari ULUN)· kamanakan (anaknya kakak / adik dari ULUN)· sapupu sakali (anak mamarina dari ULUN)· maruai (isteri sama isteri bersaudara)· ipar (saudara dari isteri / suami dari ULUN)· panjulaknya (saudara tertua dari ULUN)·pambusunya (saudara terkecil dari ULUN)· badangsanak (saudara kandung)
Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam, atau nyawa tapi ini kata lebih kasar  boleh juga menggunakan kata aku atau unda atau ulun untuk penggunaan yg halus untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian yang berasal dari kata sampian.

kata-kata diatas mungkin jarang didengar tapi itulah yang ada..tulisan ini disadur dari berbagai cerita, artikel dan tulisan elektronik penujang lain...bila ada yg kurang mohon tambahannya

Sejarah Suku Banjar


fakta ini disadur dari berbagai sumber yang ada di internet dan artikel elektronik lain..diharapkan bisa menambah pengetahuan kita semua

Suku bangsa Banjar adalah suku bangsa yang menempati sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, dan sejak abad ke-17 mulai menempati sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur terutama kawasan dataran dan bagian hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut. Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yaitu wilayah inti dari Kesultanan Banjar meliputi DAS Barito bagian hilir, DAS Bahan (Negara), DAS Martapura dan DAS Tabanio.Sungai Barito bagian hilir merupakan pusatnya suku Banjar. Suku bangsa Banjar diduga berasal mula dari penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di kawasan Tanah Banjar (sekarang wilayah provinsi Kalimantan Selatan) sekitar lebih dariseribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali akhirnya, setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasadinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan–terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).

Banjar Pahuluan
pada asasnya adalalah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus. Banjar Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar Kuala mendiami sekitar Banjarmasin dan Martapura. Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu Sumatera atau sekitarnya, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan Jawa. Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu (sebelum kesultanan Banjar dihapuskan pada tahun 1860) adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman (terakhir di Martapura), nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah lagi.Sejak abad ke-19, suku Banjar migrasi ke pantai timur Sumatera dan Malaysia, tetapi di Malaysia Barat, suku Banjar digolongkan ke dalam suku Melayu, hanya di Tawau (Sabah, Malaysia Timur) yang masih menyebut diriya suku Banjar. Di Singapura, suku Banjar sudah luluh ke dalam suku Melayu. Sensus tahun 1930, menunjukkan banyaknya suku Banjar di luar Kalsel, tetapi sensus tahun 2000 terlihat jumlahnya mengalami penurunan. Kesultanan Banjar sebelumnya meliputi wilayah provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah seperti saat ini, kemudian pada abad ke-16 terpecah di sebelah barat menjadi kerajaan Kotawaringin yang dipimpin Pangeran Dipati Anta Kasuma bin Sultan Mustain Billah dan pada abad ke-17 di sebelah timur menjadi kerajaan Tanah Bumbu yang dipimpin Pangeran Dipati Tuha bin Sultan Saidullah yang berkembang menjadi beberapa daerah: Sabamban, Pegatan, Koensan, Poelau Laoet, Batoe Litjin, Cangtoeng, Bangkalaan, Sampanahan, Manoenggoel, dan Tjingal. Wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur merupakan tanah rantau primer, selanjutnya dengan budaya maadam, orang Banjar merantau hingga ke luar pulau misalnya ke Kepulauan Sulu bahkan menjadi salah satu unsur pembentuk Suku Suluk.
Banjar Pahuluan sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi setelah raja Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja. Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit,yang dahulu diperkirakan mendiami lembah-lembah sungai yang sama.Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya, suku Dayak Bukitadalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar, yaitu sama-samaberasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih dahulu menetap. Kedua kelompokmasyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga, tetapi setidak-tidaknyapada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur. Jadi, meskipunkelompok Suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat,yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan keamanan,atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku Banjarmembentuk komplek pemukiman tersendiri. Komplek pemukiman cikal bakalsuku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan,yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagaikepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga lain yang bergabung dengannya. Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balaidi kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlakusampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno, dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan.Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya masyarakat(Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya.

Banjar Batang Banyu
Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbentuk diduga erat sekali berkaitan dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu sungai Tabalong. Sebagai warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah. Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluanyang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar. Bila diPahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak diantara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.

Banjar Kuala
Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan Banjarmasin),sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yangbaru ini dan bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudahada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar. Di kawasan ini merekaberjumpa dengan suku Dayak Ngaju, yang seperti halnya dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam. Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar,sedangkan masyarakat Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasamenyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yangterkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.
Berbeda dengan pendapat Alfani Daud, yang menyatakan bahwa inti suku Banjar adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, maka pendapat Idwar Saleh justru lebih menekankan bahwa penduduk asli suku Dayak adalah inti suku Banjar yang kemudian bercampur membentuk kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa Indonesia-nya.
Demikian kita dapatkan keraton keempat adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton. Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah grup atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan.
Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya.
Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar, ia dibantu oleh orang Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti Patih Balandean, Patih Belitung, Patih Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan politik, seperti bangsa Indonesia.

Sosio-historis
Secara sosio-historis masyarakat Banjar adalah kelompok sosialheterogen yang terkonfigurasi dari berbagai sukubangsa dan ras yangselama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama, sehinggakemudian membentuk identitas etnis (suku) Banjar. Artinya, kelompoksosial heterogen itu memang terbentuk melalui proses yang tidaksepenuhnya alami (priomordial), tetapi juga dipengaruhi olehfaktor-faktor lain yang cukup kompleks.Islam telah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak berabad-abad yang silam.Islam juga telah menjadi identitas mereka, yang membedakannya dengankelompok-kelompok Dayak yang ada di sekitarnya, yang umumnya masihmenganut religi sukunya. Memeluk Islam merupakan kebanggaan tersendiri,setidak-tidaknya dahulu, sehingga berpindah agama di kalanganmasyarakat Dayak dikatakan sebagai "babarasih" (membersihkan diri) di samping menjadi orang Banjar.Masyarakat Banjar bukanlah suatu yang hadir begitu saja, tapi ia merupakan konstruksi historis secara sosial suatu kelompok manusia yangmenginginkan suatu komunitas tersendiri dari komunitas yang ada dikepulauan Kalimantan. Etnik Banjar merupakan bentuk pertemuan berbagaikelompok etnik yang memiliki asal usul beragam yang dihasilkan darisebuah proses sosial masyarakat yang ada di daerah ini dengan titikberangkat pada proses Islamisasi yang dilakukan oleh Demak sebagai syarat berdirinya Kesultanan Banjar. Banjarsebelum berdirinya Kesultanan Islam Banjar belumlah bisa dikatakansebagai sebuah ksesatuan identitas suku atau agama, namun lebih tepatmerupakan identitas yang merujuk pada kawasan teritorial tertentu yangmenjadi tempat tinggal. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa Suku Banjar terbagi 3 sub-etnis berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk suku berdasarkanpersfektif kultural dan genetis yang menggambarkan masuknya pendudukpendatang ke wilayah penduduk asli Dayak:
Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok) Banjar Batang Banyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok) Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok) Dengan mengambil pendapat Idwar Salehtentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan sukuDayak Ngaju/suku serumpunnya (Kelompok Barito Barat) yang berada disebelah barat Banjarmasin (Kalimantan Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku Maanyan/suku serumpunnya (Kelompok Barito Timur) seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.
Berdasarkan sensus 1930, suku Banjar di Kalimantan Selatan terdapat di Kota Banjarmasin (89,19%), Afdeeling Banjarmasin tidak termasuk KotaBanjarmasin (94,05%), Afdeeling Hulu Sungai (93,75%), kota Kotabaru(69,45%), Pulau Laut tidak termasuk kota Kotabaru (48,96%), wilayah Tanah Bumbu (56,74%).[8]